fbpx

Andrea Hirata, Riri Riza, Ahmad Fuadi Dan Diplomasi Indonesia: Catatan Debat Pilpres Keempat, Oleh: Hariqo*

02Apr, 2019

Kita sudah menonton Debat Capres dengan tema: Ideologi, Pemerintahan, Keamanan dan Hubungan Internasional. Terlihat kedua Capres masih menganggap pelaku diplomasi adalah orang-orang lama, yang identik dengan dasi, jas, wangi, dll.

Andrea Hirata (Penulis Novel Laskar Pelangi) dan Riri Riza (Sutradara Film Laskar Pelangi), keduanya hampir tidak pernah berdasi, apalagi berdinas di Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pariwisata, dll. Namun berkat keduanya dan tim kreatif mereka, sekarang Bangka Belitung dikenal luas, sehingga wisatawan domestik dan asing berdatangan.

Wisatawan itu kemudian menggoda warga dunia dengan foto, video, caption tentang Bangka Belitung yang mereka unggah lewat medsos. Inilah jaman dimana setiap orang berpotensi berbicara mewakili bangsanya, memengaruhi masyarakat internasional tanpa harus menjadi PNS, ASN dan menggunakan APBN.

Ahmad Fuadi juga demikian, Novel Negeri Lima Menara karyanya diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul “The Land Of Five Towers”. Karena Novel itu, ia diundang ke berbagai negara untuk bicara tentang Pesantren dan Islam di Indonesia. Sekarang dengan Novel Merdeka Sejak Hati, ia bercerita tentang keindahan Islam di Indonesia yang terinspirasi dari kisah hidup Lafran Pane. Dunia akan mengenal Sipirok, Tapanuli Selatan karena novel ini akan segera difilmkan.

Contoh lain, mengapa anak-anak muda di Myanmar mendatangi dealer mobil Korea?. Seusai diteliti, ternyata mereka tertarik setelah melihat mobil-mobil tersebut digunakan dalam banyak film dan drama romantis Korea (Reuters.com, 29/10/2013). Jadi sutradara, pemain drama korea, semuanya terlibat dalam satu gotong royong untuk kepentingan nasional Korea. Sementara di Indonesia hampir semua sinetron, film mempromosikan mobil Jepang, Amerika, Eropa, dll. Mana mobil Esemka?

Amerika Serikat juga beberapa kali menggunakan pemain basket NBA untuk kepentingan nasional mereka. Utamanya melobi negara yang memang anak mudanya gandrung dengan basket, bahkan ada pemain NBA yang mampu berkomunikasi dengan Presiden Korea Utara Kim Jong Un. Seluruh lapangan, olahraga apapun, layar bioskop dan semua perangkat yang punya layar adalah media diplomasi

Kehadiran internet telah mengubah cara negara berdiplomasi, Diplomat di era digital bukan semata mereka yang bekerja di Kemlu RI, Duta Besar atau orang-orang yang identik dengan dasi, jas, parfum, protokoler, dll. Tetapi di era digital setiap orang adalah diplomat.

Setelah pilpres, yang perlu dilakukan oleh kita, dan tim medsos kedua capres adalah peningkatan gotong royong antarwarganet lewat media sosial untuk kepentingan nasional.

Jika saat pilpres mereka mampu membuat trending topik dunia yang menjelekkan salah satu Capres, harusnya mereka juga mampu membuat trending topik yang membela kepentingan nasional Indonesia.

Memang sampai hari ini, Indonesia belum mempunyai blueprint diplomasi digital seperti negara lain. Upaya kesana sedang dirintis, Sekolah Staf Dinas Luar Negeri yang dikomandani oleh M. Aji Surya setahun lalu terus berinovasi dengan materi-materi baru untuk re-skilling para diplomat muda.

Kita harus berlari bersama, negara lain sudah bekerja (bukan sekadar bicara) untuk perlindungan data pribadi warganya, perlindungan data negara, mempersiapkan media sosial dan mesin pencari karya anak bangsa. Kita jangan terlalu jauh tertinggal.

*Depok, 1 April 2019, Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten, (Institut Media Sosial dan Diplomasi)

Tinggalkan Komentar