fbpx

Capres Memproduksi Hoaks, Televisi Menyebarkan, Mampukah Warganet dan Media Online Meluruskan?

19Feb, 2019

Oleh: Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten*

Untuk acara yang ‘sensitif’ sebaiknya direkam (tapping) ketimbang siaran langsung (live). Saran itu beberapa kali saya dengar saat bekerja di Komisi Penyiaran Indonesia Pusat 2010-2013.

Debat Pilpres 2019 sudah berlangsung dua kali, beberapa pernyataan capres terbukti hoaks. Apakah UU ITE berlaku untuk produsen hoaks dalam debat pilpres, apakah debat pilpres sebaiknya tapping atau live?

Debat Pilpres disiarkan langsung banyak televisi, ditonton masyarakat yang tidak menggunakan medsos atau hanya sesekali menggunakannya. Hoaks masuk ke rumah-rumah di seluruh RT/RW di Indonesia, hoaks diproduksi oleh orang yang paling terkenal dan paling dikagumi, disebarkan, diulang-ulang oleh media yang paling banyak ditonton. Sementara upaya pelurusan atas hoaks tersebut lebih banyak dilakukan pengguna medsos dan media online.

Kita apresiasi setinggi-tingginya kerelawanan pengguna medsos, media online, situs lembaga untuk meluruskan hoaks yang disampaikan dalam debat pilpres. Bahkan ada yang secara sukarela yang membuat transkip debat dan menyebarkannya. Namun berapa persen dari penonton siaran langsung debat pilpres yang membaca pelurusan hoaks tersebut?. Saya yakin hoaks lebih banyak dikonsumsi ketimbang penawarnya.

Saya setuju debat pilpres tetap live untuk memperlihatkan kematangan, kesiapan serta orisinalitas calon pemimpin NKRI. Karenanya untuk kebaikan bersama saya mengusulkan dua hal:

Pertama, dalam siaran langsung debat pilpres ketiga nanti, televisi harus meluruskan berbagai hoaks yang dibuat dalam debat pertama dan kedua. Sesi pelurusan infomasi ini sebaiknya masuk dalam susunan acara debat ketiga. Disini televisi harus memilih kepentingan nasional ketimbang kepentingan elektabilitas capres. Usulan pertama ini juga dapat diterapkan dalam berbagai debat antar jubir Capres yang setiap hari tayang di televisi.

Mengapa pelurusan atas hoaks dalam debat pilpres penting disiarkan televisi?, karena meskipun tanpa sengaja, televisi ikut menyebarkan hoaks dan saat ini pengguna medsos dan media online jangkauannya belum seluas televisi.

Kedua, Jokowi-Maruf, Prabowo-Sandi serta tim sukses keduanya harus lebih keras lagi mempersiapkan diri, menghafal data. Pastikan data yang disampaikan benar, dan gunakan sesi penutup debat untuk meminta maaf terhadap hoaks yang terlanjur disampaikan. Gajah mati meninggalkan gading, jangan sampai capres cawapres, serta para jubir dimakamkan dengan meninggalkan hoaks.

*Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi, www.komunikonten.com, Depok, Jawa Barat, 18 Februari 2019

Tinggalkan Komentar