JAKARTA – Polri kembali mengungkap kelompok penebar ujaran kebencian dan berita bohong (hoaks) dengan nama Muslim Cyber Army (MCA). Dari pengungkapan itu, empat orang tersangka diamankan secara bersamaan di empat kota yang berbeda, yakni Jakarta, Bali, Pangkalpinang, dan Sumedang.

Namun, bagaimana cara kerja mereka hingga akhirnya menjadi satu kelompok yang menyebarkan berita bohong?

Hariqo menjelaskan, tim produksi bertugas untuk mencari bahan berita yang nantinya akan diolah menjadi hoaks. Kemudian, produk berita bohong tersebut disebarkan melalui tim distribusi.

“Kalau mereka melakukan kedua hal itu, artinya ada maksud tertentu atau order tentu. Sehingga tinggal dilacak siapa yang punya ide membuat ini (berita hoaks) dan pemodalnya,” katanya saat dihubungi merdeka.com, Selasa (27/2).

Untuk proses distribusi konten hoaks dan ujaran kebencian tidak dilakukan oleh tim. Biasanya mereka menyasar daerah tertentu. Contohnya, ketika dilakukan survei, kawasan A tidak menyenangi tokoh politik tertentu. Ini menjadi modal awal tim kelompok ujaran kebencian melancarkan serangannya.

Konten hasil produksi didistribusikan dengan menyasar pengguna media sosial di wilayah yang telah ditentukan. Dari situ, konten dengan mudah menyebar melalui orang per orang. Sehingga tujuan akhirnya tercapai yakni menyerang tokoh dimaksud.

“Kalau orang tidak suka makanya mereka main sebar. Karena menyebar ditangkaplah orang itu. Makanya kalau mereka mendistribusikan, mereka korban,” jelasnya.

Banyaknya informasi bohong, bukan sebuah kebetulan. Dia meyakini ada kepentingan di balik penyebaran konten kebencian. Untuk itu, Hariqo mendesak pihak berwenang untuk mengungkap aktor yang berada di balik produksi hoaks itu.

“Karena ini kan tidak seperti narkoba yang tak menggunakan internet dan perangkat komunikasi. Ini kan harusnya bisa dilacak. Misalnya dia memproduksi konten hoaks atau kampanye hitam. Kan kelihatan akun pertama yang nyebar siapa? IP address di mana? Jadi bisa dilacak,” ungkapnya.

Mengenai mudahnya masyarakat terpengaruh dan ikut menyebarkan konten, Hariqo memiliki analisa sendiri. Secara moral, sesungguhnya masyarakat Indonesia sudah mumpuni. Kesiapan perangkat dan pengetahuan untuk menggunakan media sosial juga sudah tidak diragukan. Hanya saja dia menyayangkan masih kurangnya tingkat kesadaran dan empati dalam menggunakan media sosial.

Bicara soal kesadaran perilaku di media sosial, masyarakat kadang tak sadar jika aktivitas yang dilakukan dapat menyinggung orang lain. Apalagi perilaku di media sosial tidak hanya dapat dilihat secara dua arah, melainkan banyak pihak juga dapat menyaksikan. Kondisi ini yang akhirnya dimanfaatkan para penyebar kebencian.

“Misalnya orang ketika ada temen kita menikah, terus kita komen dibawahnya, ‘semoga memperbaiki keturunan’. Seakan berkomunikasi, padahal tidak. Kalau ada anggota keluarga yang membaca lalu tidak terima, karena dianggap SARA, lalu dilaporkan, bisa ditangkap juga itu,” katanya.

“Jadi kita belum memikirkan bagaimana kalau hoaks itu dibaca keluarga, orang lain. Bisa membuat perpecahan atau konflik tidak. Kayak kemarin gempa, malah kirim meme. Gimana empatinya. Ini belum jadi budaya,” tutupnya.

Sumber: Merdeka.com

Tinggalkan Komentar