fbpx

Fomo dan Ancaman Bunuh Diri Akibat Kecanduan Internet

14Mar, 2019

Oleh: Hariqo (Direktur Eksekutif Komunikonten)

Seorang remaja menolak ikut liburan bersama keluarganya, buruknya koneksi internet di tempat tujuan dijadikannya alasan.

“Ada internetnya gak?”, pertanyaan ini seperti “Assalamualaikum” yang wajib diucapkannya kepada petugas hotel, ketika bertamu, naik taksi, bahkan kepada kondektur bus kota. Keluarganya direpotkan, ibunya pernah membanting kaca mata setelah membaca artikel yang menyebut perilaku anaknya sebagai sakit jiwa serius.

Kisah di atas hanyalah karangan saya setelah membaca beberapa tulisan tentang ‘ngerinya’ azab dari kecanduan internet. Di Inggris ada remaja bunuh diri dipicu ketidakpuasan dengan hasil selfienya, di China seorang remaja memotong tangannya hingga putus karena berlebihan berselancar di dunia maya.

Di Indonesia ada remaja yang main tik tok di depan jenazah kakeknya. Di Amerika salah satu pemicu meningkatkan bunuh diri adalah akses ke media sosial, Internet, dan kasus intimidasi siber (Victor Fornari, 2016).

Penyebaran aib seperti foto, video tidak senonoh oleh orang-orang terdekat seperti mantan pacar terjadi di banyak negara, termasuk di Jepang walaupun negara ini sudah menerapkan puasa internet sejak 2013.

Dua hari ini 13-14 Maret 2019 kita melihat begitu sedihnya sebagian orang ketika facebook dan instagram tidak bisa diakses. Mungkinkah ini yang disebut FOMO atau Fear of Missing Out?.

Diantara ciri FOMO adalah mengecek medsos kapanpun, mengedit bentuk tubuh dan warna kulit, mengkonsumsi konten-konten yang bukan prioritas, gelisah berlebihan jika jauh dari gadget, internet dan media sosial.

*depok, 14 maret 2019, institut media sosial dan diplomasi, www.komunikonten.com

Tinggalkan Komentar