Jaga Keutuhan NKRI, Santri Jawa Barat Siap Lawan Hoax

03Mar, 2018

JAKARTA – Pondok Pesantren Baitlitul Hidayah Bandung menggelarlokakarya literasi media dengan tema “Optimalisasi kreatifitas santri di media sosial dalam upaya memperkokoh dan memajukan NKRI”. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama Ponpes Baitul Hidayah dengan Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi).

Kiai Iwan Shofyan dari Ponpes Baitul Hidayah menyebut, sudah 2 kali mengadakan literasi media untuk para santri dan kegiatan kali ini menjadi yang terbesar.

“Rencananya kami juga akan memberikan pembekalan literasi media untuk para santri yang akan lulus, kami ingin mereka cerdas dalam bermedia sosial dan mampu membuat konten-konten yang memperkokoh serta memajukan NKRI”, ujar Kiai muda ini.

Literasi kali ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di bidangnya masing-masing. Antara lain, Ketua KPID Jawa Barat Dedeh Fardiah, Direktur Eksekutif Komunikonten Hariqo Wibawa Satria, Wakil Ketua DPD KNPI Jawa Barat Rizqi Ghassani, dan Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi Kota Bandung M. Latif Faidah. Serta moderator Ustaz Erik Setiawan yang juga Sekretaris Ponpes Baitul Hidayah.

Pengamat media sosial dari Komunikonten Hariqo Wibawa memaparkan, potensi santri menjadi pembuat konten hebat sangat besar. Itu karena, mereka rata-rata mampu berbicara dalam empat bahasa yakni Arab, Inggris, Indonesia, dan bahasa daerah.

“Pesantren sudah ada sejak tahun 1475, Kiai dan santri terlibat aktif melawan penjajah dan memerdekakan Indonesia. Komitmen santri untuk Pancasila dan NKRI tidak perlu diragukan lagi karena itu ciri utama santri,” ujar Hariqo

Dia menambahkan, Di era digital santri juga memainkan peran yang sangat strategis. Bahkan sudah banyak konten-konten yang diproduksi oleh santri.

“Kegiatan ini tidak mengajari santri dari awal, karena santri umumnya sudah tahu mana yang boleh dan dilarang dilakukan di media sosial,” tambahnya.

Contohnya, di pesantren menghina orang atau berkelahi bisa menyebabnya pelakunya diusir dari Pesantren. Jadi, tinggal mengaplikasikan aturan di pesantren dalam bermedia sosial.

Dedeh Fardiah menjelaskan, teknologi digital sesungguhnya untuk meningkatkan kreatifitas, meningkatkan pelayakan publik, pembelajaran jarak jauh, dan mendorong pertumbuhan usaha. Menurut dia, yang perlu kita evaluasi adalah sejauh mana pencapaian terhadap tujuan mulia dari teknologi digital tersebut.

Sementara Rizqi Ghassani mengatakan, ciri utama dari media sosial adalah pesan yang disampaikan tidak hanya untuk satu orang. Dengan begitu, pengguna media sosial harus mempertimbangkan orang banyak dalam melakukan berbagai aktifitas di media sosial.

Dia pun mengingatkan, bahwa malaikat mencatat semua perbuatan kita dan semua perbuatan buruk ada balasannya. Makanya, jangan gegabah dalam bermedia sosial.

“Kepekaan ini harus dibangun, sebab jika tidak, pengguna media sosial bisa merasa bebas memaki, menghina, marah-marah, menyebar hoax di media sosial,” jelasnya.

Sementara itu M. Latif Faidah melihat, banyak hal unik di Pesantren yang bisa disampaikan ke publik. Yang perlu ditingkatkan adalah kreatifitas dalam memproduksi konten.

“Santri bisa membuat infografis tentang istilah-istilah unik di Pesantren, bisa membuat kutipan-kutipan dari para Kiai yang menunjukan kepada publik bahwa Islam itu rahmat bagi semua,” contohnya.

Selain itu, santri juga bisa memproduksi video dengan bahasa Arab dan Inggris.

“Relawan TIK siap membantu setiap Pesantren yang ingin santrinya lebih kreatif di media sosial”, ujarnya.

Sumber: Liputan6.com

Tinggalkan Komentar

CS Online