fbpx

Nikah Sama Bule Dianggap Perbaikan Keturunan dan Selera Tinggi, Emang Kita Keturunan Tidak Baik, Emang Kita Rendah?

20Des, 2018

Oleh: Hariqo Wibawa Satria (Direktur Eksekutif Komunikonten, Pemerhati Media dan Politik)

Heboh orang Indonesia nikah sama bule bagus2 aja sebagai motivasi para jomblo. Tapi berlebihan dibilang orang Indonesia beruntung, yang pas keduanya beruntung dong. Kemarin bahkan ada yang komen di medsos “wah buat perbaikan keturunan”.

Ada juga yang nulis di twitter: “Ya alhamdulillah kalo emang dapet jodoh orang korea mah, itung-itung perbaikan keturunan kan? Tapi yaa kemungkinan seperti itu cuma 0.00001% buat seluruh pengagum oppa korea di tanah air ini :’)”.

Sengaja gak saya cetak layar, khawatir mempermalukan yg bersangkutan. Setahun lalu teman saya unggah undangan nikahnya di facebook, ada juga komen “ini baru perbaikan keturunan”.

Untung gak dibaca kedua ortu dan keluarganya. Ada sedikit motif becanda, namun lebih banyak kekeliruan dalam cara pandang atas diri dan dunia.

Sejak era kerajaan di nusantara biasa aja nikah sama orang asing. Zaman perjuangan dulu Pak Abdoel Rivai nikah sama orang Belanda, Sutan Sjahrir menikah dengan Maria Johanna Duchateau, Soekarno punya istri orang Jepang.

Coba kalo ada yang berani bilang ke Abdoel Rivai, Sjahrir, Soekarno, “wah perbaikan keturunan yah” bisa ditampar kita mengingat ketiga tokoh itu percaya diri dan bangganya sebagai orang Indonesia tinggi.

Mengubah cara pandang perlu gotong royong, karena beberapa orang terkenal (artis, dll) dan beberapa media juga memberikan pendidikan kurang baik. Ada judul berita begini. “Jangan Iri Ya, 3 Artis Ini Sedang Dekat Sama Pria Bule”, “Salut, Punya Wajah Bule, Selera Makan Tamara Bleszynski Ternyata Indonesia Banget, Langganan di Warteg Segala” dan banyak lagi.

“Suka orang Indonesia atau bule?, bule dong. Wah seleranya tinggi banget neh”. Jadi ditanamkan di benak kita bahwa orang Indonesia rendah dibanding bule. Ini gak main2 loh, kalo dikaji dampaknya sampai ke penguasaan sumber daya alam Indonesia oleh asing seperti sekarang ini.

Sebaliknya juga jangan merendahkan, misalnya nikah sama bule, arab, korea dianggap perbaikan keturunan dan selera tinggi, sementara nikah sama afrika dianggap gak beruntung. Ini panjang kalo dibahas, termasuk pencatuman syarat “berpenampilan menarik” di lowongan kerja juga merusak cara pandang kita.

Tauhid, internet, berdiskusi, jalan2 dan bersemadi itu kalo dijalankan serius akan membangun kesadaran semua manusia setara, menghapus mental terjajah. Percaya diri itu perlu, merasa paling itu jauhi, yang proporsional dan adil aja. khoirul umuri ausatuha. (Hariqo, Depok 20 Desember 2018, www.komunikonten.com)

Tinggalkan Komentar