Penolakan Ceramah Ustaz Somad Menguntungkan Youtube Merugikan Demokrasi

112

Oleh: Hariqo Wibawa Satria*

Jika anda atau organisasi anda merasa ada video ceramah Ustaz Abdul Somad Batubara (UAS) berbahaya untuk Pancasila dan NKRI, saya usul agar anda meminta google dan youtube menghapus video itu. Ketimbang beradu mulut bahkan fisik untuk menghalangi ceramahnya di darat, tetapi videonya dapat ditonton di youtube.

Saya tulis ini setelah kemarin (2/9) UAS lewat akun Instagram @ustadzabdulsomad mengumumkan pembatalan janji ceramah di Malang, Solo, Boyolali, Jombang, Kediri, Yogyakarta. Penyebabnya, UAS mendapatkan ancaman, intimidasi, pembatalan di Grobogan, Kudus, Jepara dan Semarang. UAS tidak ingin menambah beban panitia selain kondisi psikologis UAS dan jamaah mulai terganggu.

Hemat saya, penolakan terhadap ceramah, diskusi dengan tema apapun di darat, tidak akan menghambat sebuah pemikiran sampai ke masyarakat. Justru karena dihalang-halangi UAS semakin populer, bahkan UAS hampir menjadi Cawapres, namun UAS menolak karena ingin fokus berdakwah. Ini keputusan paling aneh utamanya bagi pemasang baliho.

Yang dikecewakan oleh penolakan saudara-saudara saya dari GP Ansor terhadap ceramah UAS di Jepara adalah warga Jepara yang berniat hadir, panitia serta UAS. Sementara masyarakat di daerah lain justru semakin ingin menonton ceramah UAS di internet. Terbukti setiap ada penolakan terhadap UAS didarat, undangan ceramah untuk UAS bertambah dan penonton videonya di youtube semakin jutaan.

Jamaah UAS juga kian semangat dan kreatif jika UAS ditolak ceramah, silahkan lihat komentar warganet di medsos UAS. Mereka menganggap inilah resiko perjuangan menyampaikan kebenaran. Tidak menutup kemungkinan mereka akan menyebarkan video-video UAS lewat whatsapp, bbm, email, dll.

Karenanya, saya sarankan anda yang menolak UAS di darat juga meminta perusahaan penyedia layanan email menolak video UAS. Berikut beberapa layanan email: yahoo, gmail, hotmail, outlook, icloud, aol, zoho, gmx, yandex, mail, lycos, proton, ini belum termasuk email yang berbasis web yang buanyak sekali.

Oh ya media sosial tak hanya youtube, ada Instagram, twitter, facebook, line, telegram yang juga menjadi saluran untuk mendistribusikan ceramah UAS. Sebaiknya anda juga mendatangi pihak Samsung, Oppo, Apple, HTC, Lenovo, Nokia, Asus, Xiaomi, SONY, LG, ZTE agar telepon genggam yang mereka produksi dilengkapi sensor pendeteksi video UAS.

Anggaplah youtube bersedia menghapus video-video UAS, walaupun saya tidak yakin. Pengalaman saya melaporkan video yang menghina agama Hindu dan Budha di youtube, sampai sekarang tidak dihapus videonya oleh youtube, bahkan sejak bulan Juni lalu saya sudah 2 kali mention akun @Kemkominfo juga tidak digubris.

Hampir mustahil youtube menghapus semua ceramah-ceramah UAS, pertama UAS tidak melanggar ketentuan Youtube, kedua, UAS sangat membantu membesarkan youtube. Berapa banyak orang kenal youtube karena video UAS. Jadi bukan UAS yang butuh Youtube, bisa jadi sebaliknya. Belum lagi anda diprotes beberapa aktivis youtube yang mendapatkan penghasilan dari mengunggah video UAS. Setahu saya UAS sendiri tidak mengambil honor dari youtube.

Oke, anggaplah youtube bersedia menghapus video-video UAS karena tekanan organisasi anda. Namun selain youtube masih banyak medsos lain yang bisa digunakan untuk mengunggah video UAS. Di Indonesia saja ada vidio.com, meTube, belum produk luar seperti dailymotion, veoh dan puluhan medsos sejenis youtube. Saya yakin 100 persen mereka bersedia sekali mengunggah video-video ceramah UAS. Video UAS akan menaikan brand mereka.

Saya tekankan kembali, penolak-penolakan terhadap ceramah, diskusi dengan tema apapun di darat tidak akan menghambat sampainya sebuah pemikiran kepada masyarakat. Ada ada ribuan jalan, saluran yang dapat menghantarkan sebuah konten sampai ke masyarakat. Sebuah konten akan makin bertenaga jika didapatkan dengan sulit dan berliku.

Saya sendiri tidak setuju 100 persen dengan semua ceramah UAS, terutama sekali soal khilafah, suriah, dll. Tapi tidak kepikiran sedikitpun menghadang UAS di darat, karena wajar manusia salah bicara yang penting ada klarifikasi setelahnya, dan faktanya banyak ceramah-ceramah UAS yang justru sangat moderat, UAS juga tidak mudah membid’ahkan, mengharamkan sesuatu, ia hafal berbagai pendapat ulama. Rujukan kitab UAS banyak, ilmunya juga sangat luas dibanding beberapa Ustaz lainnya yang populer di TV.

Khusus untuk khilafah, UAS telah berkomitmen tidak akan mengubah Pancasila dan NKRI karena itu kesepakatan semua golongan. Apresiasi sebesar-besarnya kepada TNI, POLRI, DPR, MPR, DMI, Kementerian dan Lembaga Negara lainnya yang merangkul UAS, mengundang ceramah dan berdialog. Soal UAS sudah selesai menurut saya, UAS adalah asset bangsa Indonesia untuk menyebarkan islam yang rahmatan lilalamin bagi seluruh dunia.

Sebagai tahap awal, di Asean UAS sudah dikenal. Tidak ada Ustaz yang benar-benar sempurna dan sesuai betul dengan selera kita. Ini dunia.

Lalu bagaimana menyikapi diskusi atau ceramah yang kita nilai berbahaya, menurut saya hadapi dengan dialog. Selain itu perkuat pendidikan kebangsaan untuk para guru dan anak-anak kita. Apa yang dicontohkan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Gus Solah, Gus Mus, Prof. Dr. Mahfud MD, Dr. Syaiful Mujani menurut saya layak dikembangkan. Sabar, mendengar, merangkul, mengajak dialog atau menulis buku “Islam Yes, Khilafah No” seperti Prof. Dr. Nadirsyah Hosen.

Di era digital, tidak ada gunanya membangun tembok penghalang di darat agar orang tidak bisa lewat.

Organisasi-organisasi mahasiswa seperti HMI, PMII, IMM, GMNI, KAMMI, PMKRI, GMKI, KMHDI, SEMMI, HIKMAHBUDHI, dll juga harus menyiapkan kader-kadernya agar mampu seperti para pakar di atas. HMI terutama yang dikenal sebagai perintis organisasi mahasiswa islam sekarang mulai menurun.

Disini menjadi relevan sindiran Prof. Dr. Azyumardi Azra terhadap organisasi-organisasi mahasiswa islam beberapa waktu lalu. Di Yogyakarta juga ada Prof. Dr. Amin Abdullah yang mampu menyampaikan banyak sekali kelemahan organisasi islam transnasional dengan santun dan sistematis. Banyak sekali tokoh kita sebenarnya, apalagi sekarang ada BPIP yang sayang belum nampak kerjanya.

Jangan sampai underbouw ormas besar, atau gerakan mahasiswa hanya bisa melarang diskusi, namun menolak debat. Pihak yang mengadakan ceramah, diskusi juga harus mampu membedakan mana ruang publik dan mana ruang privat. Kebiasaan bubar membubarkan ceramah dan diskusi ini sebaiknya dihentikan, entah siapa yang memulai hal ini.

Yuk kita siuman, ini zaman dimana konten yang diunggah sebuah akun medsos pribadi mampu mengalahkan konten yang diproduksi oleh perusahaan media. Zaman yang tidak relevan lagi kita bicara ancaman masuknya siaran asing di perbatasan, karena siaran asing sudah masuk ke jantung-jantung kota dan ke telepon genggam setiap orang.

Zaman merebut simpati publik lewat berbagai konten kreatif. Konten yang merangkul, bukan terus-terusan memukul hingga yang dipukul jadi kebal.

Yang juga harus sama-sama kita sadari adalah NKRI ini dibangun oleh kerjasama banyak golongan, utamanya golongan Islam, golongan kebangsaan dan golongan kiri, ini fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Semua golongan sepakat NKRI dan Pancasila sudah final.

Tidak boleh ada satu kelompok melakukan monopoli atas kelompok lainnya. Golongan Islam, Golongan Kebangsaan, Golongan Kiri harus terus bergotongroyong untuk NKRI. Jangan sampai ketiga kelompok ini terus bertempur dan saling mengubur, sehingga memudahkan pihak lain menguasai NKRI. Jadi bukan hanya NKRI saja yang harga mati, gotong royong golongan juga harga mati.

*Hariqo Wibawa Satria, M. Si (Direktur Eksekutif Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi) www.komunikonten.com

Tinggalkan Komentar