Oleh: Hariqo Wibawa Satria*

Seseorang membuat akun twitter dan instagram dengan nama yang identik dengan Kristen. Akun palsu ini kemudian menghina Allah SWT, Alquran, Nabi Muhammad SAW.

“Dia” juga membuat akun facebook, youtube palsu dengan identitas Islam, lalu melecehkan Yesus, Natal, Nabi Isa dll.

Kaget melihat medsos, pengguna medsos yang Islam mencetak layar (screenshot) postingan di twitter yang melecehkan agamanya. Pengguna medsos yang Kristen juga mencetak layar status facebook yang menghina Yesus. Keduanya menyebarkan screenshot itu di komunitas masing-masing. *Viral*, terjadi generalisasi, menjelma isu panas di warung, pasar serta rumah ibadah, tertanam kebencian massal yang bisa meledak.

Situasi akan memburuk jika media memberitakan dengan judul menuduh, meskipun isinya mempertanyakan.

Para pengadu domba juga bisa menjadi Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, Sunni, Syiah, Wahabi, dll, tinggal membuat akun dan konten saja di medsos.

Membenturkan HMI dengan NU, Sunni dengan Syiah, Banser dengan FPI juga mulai terbaca dilakukan kembali. Kebetulan pengusaha media sosial sosial mempermudah pembuatan akun, dan tekanan Pemerintah terhadap pengusaha medsos ini lemah ketimbang ke pengguna medsos.

Hal ini pernah saya paparkan dalam diskusi di Bogor tahun 2015 yang dihadiri petinggi Muhammadiyah, NU, MUI dan seorang kawan mantan Sekjen PP PMKRI. Akun-akun yang mengadu domba ini mudah ditemukan, namun jika sudah viral akun tersebut berganti nama, menghapus unggahannya atau men-delete permanen akunnya guna menghilangkan jejak.

Karenanya, sebaiknya jangan pernah langsung percaya jika mendapatkan screenshot status, percakapan di medsos yang disebarkan lewat whatsApp. Cek apakah akun tersebut palsu, jika asli laporkan ke aparat dan jangan melakukan generalisasi seakan satu mewakili semua.

Sayangnya pengecekan mendalam hanya bisa dilakukan mereka yang punya telepon genggam bagus, kuota dan waktu luang berlebih, namun sulit bagi kebanyakan orang. Supir taxi, dokter, teller bank, pramusaji, ibu yang baru melahirkan tidak punya cukup waktu melacak kebenaran sebuah kiriman di grup tertutup seperti whatsApp. Bahkan mungkin mereka tak sempat membaca peringatan yang disampaikan anggota WhatsApp terhadap konten hoax tersebut.

Memperketat syarat pembuatan akun medsos, mendisiplinkan pengusaha medsos, penegakan hukum yang ADIL, literasi digital yang benar dan berkelanjutan adalah beberapa cara terbaik untuk pencegahan.

Apalagi menjelang Pemilihan Presiden 2019 ini banyak konten tak bertuan beredar. Ada poster menghina agama A, tapi tidak jelas siapa produsen konten tersebut, apakah Timses Jokowi-Maruf atau Timses Prabowo-Sandi atau pihak lain yang ingin NKRI bubar.

Timses Caleg, Presiden dan kita pengguna media sosial harus ingat, bahwa belum tentu konten yang seakan menguntungkan kelompok kita, caleg kita, capres kita juga menguntungkan NKRI.

Waspadalah, hati-hati dengan konten kita produksi dan distribusikan. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan konten. Tinggalkanlah konten yang benar dan bermanfaat sebelum kita mati.

Depok, 11 September 2018.
*Hariqo Wibawa Satria, M.Si* (Direktur Eksekutif *Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi) –www.komunikonten.com

Tinggalkan Komentar