Salah Satu Penyebab Tren Video Kiki Challenge: Pamer Mobil

03Agu, 2018

Jakarta – Beberapa pekan belakangan, media sosial (medsos) diramaikan oleh tren video Kiki Challenge. Tren yang semula hanya untuk seru-seruan ini mulai mengundang kekhawatiran karena membahayakan.

Tren Kiki Challenge terinspirasi lagu In My Feelings, yang dipopulerkan musisi asal Kanada, Drake. Para pelaku tantangan ini merekam sebuah video di mana mereka memutar lagu In My Feelings sambil mengendarai mobil.

Orang yang berada di bangku penumpang depan keluar lalu menari-nari. Sedangkan pengemudi merekam orang yang menari itu.

Mobil dibiarkan berjalan pelan dengan pintu kiri terbuka, selama tarian dilakukan. Setelah tarian selesai, si penari masuk lagi ke mobil.

“Kiki Challenge disukai karena memang masyarakat utamanya anak muda suka tantangan. Anak muda cenderung lebih melaksanakan tantangan ketimbang ajakan,” sebut pengamat media sosial Institut Media Sosial dan Diplomasi Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria mengomentari fenomena ini.

Diakuinya, berdasarkan pengamatannya, tren ini semakin digandrungi. Setiap hari selalu ada video baru dari berbagai negara termasuk Indonesia.

Banyak yang terhibur, namun lebih banyak yang menyoroti bahaya dari aksi tersebut. Polri sudah mengeluarkan pernyataan yang melarang masyarakat, terutama anak-anak muda melakukan Kiki Challenge.

“Kiki Challenge populer salah satunya karena motivasi pamer mobil. Meskipun dalam banyak video merek kendaraannya tidak diperlihatkan oleh si pengambil tantangan Kiki Challenge,” duganya.

Sebagai ‘perlawanan’ atas bentuk pamer ini, ada yang membuat video Kiki Challenge menggunakan bajaj, angkutan umum, bahkan sepeda motor, bahkan ada yang tidak menggunakan kendaraan sama sekali.

“Niatnya ingin berbeda, namun sebenarnya ini kreativitas yang bisa juga disebut pemberontakan,” sebutnya.

Dikatakannya, dalam menyikapi sesuatu yang viral di internet, ada yang mencontoh persis seperti yang dilakukan banyak orang, ada juga yang kreatif.

Menurut Hariqo, ada sisi positif dari berbagai tantangan yang viral di medsos, salah satunya melatih orang berfikir kreatif dalam membuat konten.

“Tantangan untuk membuat video di medsos kan banyak dilakukan orang jika tantangan itu memenuhi beberapa kriteria, diantaranya: unik, lucu, menghibur, melibatkan aktivitas fisik. Semakin unik, semakin ekstrim, menghibur akan semakin digemari,” terangnya.

Dikatakan Hariqo, yang perlu diwaspadai adalah tantangan yang sifatnya tertutup serta terbatas, misalnya tantangan yang hanya diedarkan dalam satu komunitas. Misalnya,.tantangan berfoto di rel kereta api, tantangan berciuman, atau tantangan jahil yang biasa disebut prank.

“Generasi muda perlu diberi pengertian bahwa apapun yang diunggah di internet akan abadi selamanya. Boleh jadi sosok yang di dalam video tidak masalah dengan keabadian konten, namun ia juga harus mempertimbangkan perasaan orangtuanya, anaknya kelak dan keluarga besarnya yang mungkin terganggu,” jelas Hariqo.

Mengingat karakter anak muda yang suka ditantang, Hariqo berpendapat alangkah baiknya jika mereka diarahkan untuk tantangan yang berdampak positif.

Berbagai tantangan membuat konten yang ‘aneh-aneh’ menurutnya tidak bisa dicegah, karena setiap orang dari belahan dunia manapun berpotensi menjadi inisiator.

Maka, baiknya ada muatan pendidikan atau pesan positif dalam tantangan tersebut. Di sini, media mempunyai peran strategis untuk memilah milih mana tantangan yang perlu disebarluaskan dan mana tantangan yang perlu dikoreksi atau diingatkan bahayanya.

“Sisi positif lain yang patut ditindaklanjuti adalah, adanya keinginan remaja Indonesia untuk berpindah dari sekedar penyebar konten menjadi pembuat konten,” tutupnya.

Sumber: Detik.com

 

Tinggalkan Komentar

CS Online