fbpx

Tokoh Muhammadiyah dan NU Hadiri Diskusi Wasatiyah Islam

27Jun, 2018

Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi) mengadakan diskusi bertema: Strategi Mempromosikan Wasatiyah Islam Lewat Diplomasi Media Sosial, pada Selasa 26 Juni 2018, pukul 13.30 – selesai, di Aula PGK, Jalan Duren Tiga Raya No 7, Pancoran, Jakarta Selatan. Kegiatan ini gratis, terbuka untuk umum.

Narasumber yang hadir: 1) Hajriyanto Y Thohari, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2020, Wakil Ketua MPR 2004 – 2019, 2) Marbawi, Ketua Yayasan Nusadamai, Ketua Umum GNKRI, 3) Savic Ali, Direktur Pemberitaan Nahdlatul Ulama Online, Pendiri islami.co, 4) Tauhid Nur Azhar, Dewan Pakar Neurosains Indonesia, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung dan C-Gen Indonesia.

Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten mengatakan bahwa di era digital setiap kita adalah diplomat, diskusi ini mendorong setiap orang menjadi juru bicara wasatiyah Islam dengan media sosialnya masing-masing. Karena itu diperlukan wawasan tentang wasatiyah Islam, agar apa yang disampaikan di internet dan media sosial memberikan manfaat untuk kemajuan Indonesia dan perdamaian dunia.

“Diplomasi media sosial kami artikan sebagai gotongroyong yang kita lakukan untuk kepentingan nasional NKRI, diantaranya menciptakan keadilan dunia dan perdamaian abadi. Salah satu caranya mempromosikan tujuh nilai utama wasatiyah Islam yang telah disepakati dalam pertemuan besar para Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia pada awal Mei 2018 lalu di Bogor.” jelas Hariqo Wibawa Satria di Jakarta, Selasa, 26 Juni 2018.

Hariqo menambahkan bahwa citra baik sebuah negara di mata dunia internasional tidak saja karena pidato pejabatnya di forum-forum resmi, namun juga oleh apa yang diproduksi dan disebarkan oleh warganya di media sosial, itulah yang menginspirasi Komunikonten merumuskan 10 tugas diplomat di internet dan media sosial.

Sebelumnya, Indonesia berinisiatif mengadakan Konsultasi Tingkat Tinggi Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia pada 1 – 3 Mei 2018 lalu di Bogor. Kegiatan ini dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo, dihadiri berbagai ulama dunia termasuk Grand Sheikh al-Azhar, Kairo, Ahmad Muhammad ath-Thayyib. Di akhir pertemuan itu, Din Syamsudin, Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban mengatakan bahwa KTT Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia pada 1 – 3 Mei 2018 di Bogor, Indonesia menyepakati tujuh nilai utama wasatiyah, yaitu:

Pertama tawassut, yaitu berada pada posisi di jalur tengah dan lurus. Kedua, i’tidal, yaitu berperilaku proporsional dan adil serta bertanggung jawab. Nilai ketiga tasamuh, yaitu mengakui dan menghormati perbedaan dalam semua aspek kehidupan.

Keempat, syura, yaitu bersandar pada konsultasi dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah untuk mencapai konsensus. Kelima, islah, yaitu terlibat dalam tindakan yang reformatif dan konstruktif untuk kebaikan bersama. Keenam qudwah, yaitu melahirkan inisiatif yang mulia dan memimpin untuk kesejahteraan manusia. Dan, nilai ketujuh muwatonah, yaitu mengakui negara bangsa dan menghormati kewarganegaraan.

Pernyataaan Beberapa Tokoh Terkait Wasatiyah Islam:

Prof. Dr. Said Aqil Siradj (Ketua Umum PB NU): menyebut dari sisi peradaban dan budaya, Indonesia jauh lebih bermartabat daripada negara lain. Indonesia mempunyai budaya yang sangat ramah, santun, dan tawadhu. Orang-orang muda menjunjung rasa hormat kepada orang tua. Demikian juga orang tua menyayangi kepada yang lebih muda. Keadaan sebaliknya justru terjadi di Timur Tengah.

Prof. Dr. Din Syamsudin (Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban): Memang tidak ada solusi bagi problematika peradaban dunia kecuali dengan wasatiyah Islam. Tidak terjebak pada radikalisme, fundamentalisme dan ekstremisme,”

Prof. Dr. Amin Abdullah (Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta): Saya maklum sekali dengan yang terjadi di Indonesia saat ini, salah satunya karena pendidikan agama Islam di Indonesia lebih banyak soal kalam dan fikih, sedangkan aspek sejarah, tasawuf dan falsafahnya kurang.

Tinggalkan Komentar