fbpx

Untuk Gus Miftah dan Pengkritik Banser, Tolong Ributnya Ditahan Dulu

25Agu, 2019

Oleh: Hariqo Wibawa Satria*

Beberapa akun medsos berteriak, mengapa Banser tidak ke Papua?, entah ini pertanyaan atau sindiran. Sayangnya terlanjur dijawab serius oleh Gus Miftah, beliau sampai bikin video untuk mengatakan “Banser bukan Polisi, bukan Tentara, Banser siap ke Papua kalau ada payung hukumnya, karena negara kita adalah negara hukum.”

Jawaban Gus Miftah dibalas lagi oleh video Maheer At Thuwailibi, dia bilang “Jadi kalau Banser membubarkan pengajian, kira-kira itu sesuai dengan landasan hukum atau tidak?.” Hingga saat ini, saling ejek berlangsung terbuka di medsos.

Pertanyaan saya, apakah perdebatan mereka di ruang publik meredakan ketegangan di Papua?, atau malah menyinggung warga Papua?. Bisakah demi NKRI, kedua oknum dari “kelompok islam” ini melupakan sejenak “ketidaksukaan” antarmereka?.

Bukankah ada kaidah fiqih, “alkhuruj minal khilaf mustahab” (menghindari perbedaan pendapat lebih dicintai), setidaknya untuk sementara waktu, atau tidak dilakukan terbuka dulu, demi kepentingan NKRI yang lebih besar.

Perumpamaan-nya begini, dalam sebuah grup whatsapp, ada tiga orang berdebat keras karena salah paham soal XYZ. Beberapa anggota grup berusaha mendamaikan, sebagian memilih diam dengan berbagai pertimbangan. Anehnya, ada dua anggota grup yang saling memaki dengan menggunakan isu XYZ itu. Keluarlah satu persatu anggota grup, dan akhirnya grup whatsapp itu bubar.

Sejak hari Senin (18/9/2019) saya catat, selain Gus Miftah dan Maheer, beberapa akun juga memanas-manaskan situasi, menaikan kelompoknya menjatuhkan yang lain, menyampaikan analisis yang menguntungkan separatisme, bergerak sesuai kepentingan masing-masing.

Saya menulis ini, karena menyaksikan pola yang sama terulang. Ketika ada yang meninggal ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua, beberapa akun di medsos berperilaku aneh, bukan ucapan duka yang pertama kali diposting, tapi malah menuliskan “Banser, mana Banser?”.

Saya seratus persen yakin, tidak semua anggota banser, tidak semua warga NU setuju dengan beberapa aksi Banser di lapangan. “Jangan hanya benar, tapi juga harus pantas”, begitu yang diajarkan salah seorang Ketua PB NU.

Dalam situasi krisis, sebaiknya dahulukan kepentingan nasional, bukan kepentingan golongan kita masing-masing. Kedepankan fakta-fakta yang dapat menurunkan tensi konflik, memberitakan sekaligus mendamaikan, bermedsos sekaligus bergotongroyong untuk mengendorkan ketegangan.

Karenanya, belum tentu memproduksi, menyebar konten yang seakan menguntungkan golongan kita, juga menguntungkan kepentingan nasional NKRI. Dalam kaidah fiqih disebutkan mengutamakan kepentingan bersama (maslahah ‘ammah) harus dikedepankan ketimbang kepentingan pribadi (maslahah khassah/maslafah fardiyyah)

Sekarang ini kita sudah saling tidak percaya. Curiga bahwa kelompok tertentu nasionalismenya tidak sehebat kelompok kita. Curiga kelompok lain ber-agamanya tidak sebagus kelompok kita. Sebaiknya, kecurigaan itu kita cari jawabannya dengan tabayyun mendalam yang dijiwai semangat persaudaraan, rangkul terus tanpa lelah dan putus asa.

Sebab Negara yang warganya sudah saling curiga mudah sekali diadu domba, dikuasai. Terasa gak, sekarang kita saling mencurigai?, terasa gak, kita sudah dikuasai?. Kedepan mari sama-sama kita berubah.

Depok, 24 Agustus 2019

*Hariqo Wibawa Satria, Direktur Eksekutif Komunikonten, Penulis Buku Seni Mengelola Tim Media Sosial; 200 Tips Ampuh Meningkatkan Performa Organisasi di Internet Dengan Anggaran Terbatas.

Tinggalkan Komentar