fbpx

Evan Dimas dan Doan Van Hau, Siapakah yang Pecundang?

14Des, 2019

Oleh: Hariqo Wibawa Satria*

Saya kira Doan Van Hau akan dipuja-puji oleh pengguna medsos Vietnam, sebab Vietnam meraih emas di cabang Sepakbola pada SEA GAMES 2019 Filipina.

Tidak juga rupanya, sebuah akun youtube Bóng Đá Số 1 yang berlokasi di Vietnam mengunggah ulah buruk Doan Van Hau dengan judul: “Close-up Van Hau “memangkas” Evan Dimas ke kursi roda”. Ngilu melihat video itu, untung kaki Evan Dimas tidak patah.

Ada komentar warga Vietnam: Nhìn tội quá đi xe lăn mặt buồn muốn rơi nước mắt luôn; Saya merasa sangat sedih ketika (Evan Dimas) naik kursi roda, saya ingin menangis. Dan Nói một cách công tâm thì Hậu xấu chơi trong pha bóng này..e phải kiềm lại tính nỏng nảy với những pha va chạm không bóng kiểu này..(Secara adil, Doan Van Hau bermain buruk di bola ini … Aku harus menahan emosiku dengan tabrakan non-bola ini …)

Saya cek juga sebuah instagram, ada 300 ribuan komentar per 11 Des 2019 pukul 12.27 WIB, kalau digabung komentar dari beberapa akun bisa jutaan. Kebanyakan komentar negatif berasal dari netizen Indonesia, dipicu perangai Doan Van Hau yang sengaja menciderai pemain andalan Indonesia Evan Dimas.

Dulu pendapat penonton dipengaruhi pemberitaan media dan pengamat, sekarang penonton langsung mengomentari berdasarkan apa yang dilihatnya. Siapapun yang “membela” Doan Van Hau akan ditertawakan, kesengajaan itu jelas banget. Untungnya Doan Van Hau sudah minta maaf.

Tujuan olahraga bukan hanya medali, melainkan sifat sportif, jujur. Olahraga diselenggarakan dengan biaya mahal agar karakter sportif, jujur hadir dan hidup dalam masyarakat.

Melihat urutan waktu kejadian (chronos), kita harus kritis melihat “kesimpulan” bahwa “suporter Indonesia kejam”, “suporter Indonesia adalah tukang bully,” dan label buruk lain yang disematkan terhadap supporter Indonesia. Justru kemarahan suporter Indonesia adalah perjuangan melawan taktik kotor (dirty tactics) agar olahraga kembali pada tujuannya.

Konten dalam makna luas bukan semata; tulisan, foto, infografis, video, tapi juga perilaku kita di sekolah, kantor, masyarakat, lapangan olahraga, dll. Pada SEA GAMES 2019 Filipina, setidaknya ada tiga konten bernilai yang perlu kita budayakan dalam kehidupan sehari-hari:

Pertama, aksi Peselancar Filipina, Roger Casugay yang merelakan peluangnya meraih emas kandas, demi menyelamatkan Peselancar Indonesia Arip Nurhidayat yang hampir tenggelam dihantam ombak besar.

Kedua, kebesaran hati Evan Dimas yang langsung memaafkan Doan Van Hau, padahal yang bersangkutan menciderainya. “tidak ada sakit hati, saya tidak tahu apakah dia sengaja atau tidak, saya sudah memaafkan,” kata Evan Dimas.

Ketiga, langkah serius untuk memperbaiki PSSI dari segala aspek, yang ketiga ini belum terjadi, kita doakan yuk, amiin.

 

*Hariqo Wibawa Satria, Pengamat Media Sosial dari Komunikonten, Penulis Buku Seni Mengelola Tim Media Sosial; 200 Tips Ampuh Meningkatkan Performa Organisasi di Internet dengan Anggaran Terbatas

Tinggalkan Komentar