fbpx

Piala Dunia 2018 Serta Sunni, Syiah, Wahabi, Komunis di Medsos

17Jun, 2018

Oleh: Hariqo Wibawa Satria (Direktur Eksekutif KOMUNIKONTEN, Institut Media Sosial dan Diplomasi, anggota GNKRI)

Seorang kawan mengirim poster berisi sebelas foto Mohamed Salah. “Dukung Mesir di piala dunia yah?”, tanya saya. “Mohon maaf banyak Salah, Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir batin ya”, jawabnya disertai he,he. Ya..Piala Dunia 2018 di Rusia sedang berlangsung, inilah hajatan yang paling menyedot perhatian warga dunia, ucapan lebaranpun menyesuaikan.

Piala Dunia 2018 ini diselenggarakan di zaman “aneh”. Zaman dimana unggahan sebuah akun media sosial pribadi, bisa lebih banyak dikomentari dan diperhatikan orang ketimbang berita yang diproduksi perusahaan media. Zaman dimana semua konten media dapat diproduksi setiap orang, zaman dimana pendapatan seorang youtuber kadang lebih besar dari media. Zaman dimana kita bebas menentukan kapan menonton pertandingan. Priiiiit, kick off dimulai..

Pertandingan pertama, Rusia versus Arab Saudi. Lima gol cantik sukses dilesakkan para pemain Rusia ke gawang Arab Saudi, 5-0 untuk negara yang mengalahkan pasukan Adolf Hitler di perang dunia kedua ini.

Setelah kekalahan Arab Saudi, warganet memberikan komentar-komentar tak biasa di twitter. “wah Komunis mengalahkan Wahabi”, “Mungkin Pemain Arab Saudi ingin cepat-cepat lebaran”. Sebuah media online bahkan menurunkan judul satir “Arab Saudi: Tuhan Malu Tak Kabulkan Doa Jutaan Umat”. Komunis, Wahabi tentunya generalisasi, namun terlalu panjang juga diulas di kolom twitter.

Yang saya pahami dari berbagai komentar warganet itu adalah, Tuhan tidak akan mengabulkan doa hambanya yang usahanya kurang. Jadi Timnas Indonesia sangat mungkin kalah dengan Timnas Spanyol dalam sebuah pertandingan resmi, meskipun seluruh orang Indonesia berdoa untuk kemenangan Timnas Indonesia. Ajakan rasional ini sudah lama dianjurkan Sutan Takdir Alisjahbana, Haji Agus Salim, Tan Malaka dan para pemimpin kita terdahulu.

Negara yang super serius mengurus bola pasti membuahkan hasil, Islandia itu penduduknya hanya tiga ratus tiga puluh ribu (330.000 jiwa), tapi bisa lolos ke piala dunia 2018 di Rusia, sedangkan Indonesia dengan 270 juta penduduk jadi penonton saja. Menarik jadi pertanyaan untuk skripsi ini.

Komentar-komentar satir juga bermunculan setelah Iran menang 1-0 melawan Maroko, diantaranya: “Kemarin komunis, sekarang syiah yang menang. Duh lama2 piala dunia bisa diboikot ini”, “Sunni-Syiah di sarang Komunis”. Ada juga yang menulis “Islam Baik Sunni Maupun Syiah Menentang Keras Bunuh Diri”, twit ini merespon gol bunuh diri yang dilakukan pemain Maroko ke gawangnya sendiri. Saya tertarik melacak komentar-komentar ini karena kebetulan malam itu yang jadi trending topik di twitter diantaranya #iran dan #syiah.

Namun diantara warganet ada juga yang kurang nyaman dan menulis “Gimana mau asyik nikmatin pildun kalo netijen masih juga serempetin komunis vs wahabi, sunny vs syiah. hhh sentisif akutuuu nda suka becandaan begituu”. Kemudian direspon warganet lainnya: “sesungguhnya jokes Komunis-Wahabi, Sunni-Syiah adalah satir semata. Sepakbola Mengajarkan Kita Untuk Menjunjung Tinggi Profesionalitas serta Menolak Rasis dan SARA.”

Kebanyakan warganet Indonesia senyum-senyum saja menanggapi komentar-komentar itu, sedikit sekali yang menanggapi serius. Saya tak bisa membayangkan jika komentar-komentar diatas muncul di negara yang modal sosial dan toleransinya belum sehebat Indonesia.

Tetapi potensi persoalan yang mungkin muncul adalah, jika twit-twit candaan satir tersebut di cetak layar (screenshot), kemudian disebarkan oleh orang-orang yang berniat buruk. Karenanya, jika kita mengirim cetak layar sebuah twit ke grup percakapan (callind, bbm, whastapp, telegram, dll), sebaiknya disertai tautannya, agar warganet bisa melacak konteks dari twit tersebut.

Sikap agar orang tidak cepat anti ideologi ini dan itu, mudah mengkafirkan, menyesatkan memang tidak bisa cepat disembuhkan untuk sedikit kalangan. Prof. Dr. Amin Abdullah dalam sebuah diskusi di Yayasan Nusa Damai mengatakan; saya maklum sekali dengan yang terjadi di Indonesia saat ini, salah satunya karena pendidikan agama Islam di Indonesia lebih banyak soal kalam dan fikih, sedangkan aspek sejarah, tasawuf dan falsafahnya kurang.

Namun Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga dua periode ini juga mengatakan, bahwa dibanding negara-negara islam lainnya di dunia, tingkat toleransi dan kedewasaan orang Indonesia menyikapi perbedaan lebih baik. “beda-beda di medsos itu wajar, tak bisa dihindari, memang zamannya, yang penting jangan melukai apalagi mengebom”, ucapnya dalam diskusi itu. Selengkapnya kawan2 bisa membaca tulisan Amin Abdullah pada 2010 lalu, cek di internet judulnya Agama & Pembentukan Kepribadian Bangsa di Indonesia.

Bola adalah bola, seperti semua olahraga sepakbola mengajarkan kita menolak rasisme, radikalisme, dll. Seorang penikmat bola sejati tidak akan pernah mengomentari sebuah undangan pernikahan di medsos dengan kalimat “wah perbaikan keturunan ya…”.

Canda-candaan satir tentang ideologi dan kesadaran penuh sebagai warga dunia memang butuh waktu. Yang penting jangan sampai kita sudah jatuh tertimpa batako, sudahlah Indonesia tidak masuk piala dunia, bahkan piala dunia jauh di Rusia sana, eh ribut-ributnya malah disini. Selamat mengikuti pilkada serentak pada 27 Juni 2018 nanti, jangan lupa coblos kandidat yang siap bergotongroyong menjadikan Indonesia tuan rumah Piala Dunia selanjutnya. Salam olahraga.

Depok, Jawa Barat, 17 Juni 2018, Hariqo Wibawa Satria – www.komunikonten.com

Tinggalkan Komentar